Langsung ke konten utama

Lemari Trofi PSSI Dan Ceramah Ustad Yusuf Mansyur



Jadi beberapa waktu lalu saya dapat panggilan pekerjaan. Sebagai joob seeker tentu ini bukan panggilan pekerjaan pertama saya. Tapi, yang ini begitu bikin saya bahagia sampe ga bisa tidur. Panggilan kerja dari PSSI. Sebagai penggila bola pasti saya seneng pake banget. Mimpi jadi pemain bola hampir dipastikan pupus. Yaeyalah, 23 tahun bukanya main di seagames malah nulis di mojok. Tapi, harapan buat wujudin cita-cita itu timbul lagi dari panggilan kerja dari PSSI. Ya, setidanya masih bisa kasih kontribusi buat sepak bola Indonesia

Saya, emang kirim lamaran ke PSSI, saya ga tau PSSI lagi buka lamaran. Dan taunya, saya dapat panggilan. Ya sudah dengan dada sedikit dibusungkan saya penuhi panggilan inteview. Saya berangkat dari rumah jam setengah lima pagi biar bisa naik kereta di Cirebon jam 6 Pagi. Sampai Jakarta jam 9 sedangkan jadwal interview jam 10. Lumayanlah keburu. Akhirnya saya sampai di depan gedung perkantoran yang katanya di dalem ada kantor PSSI. Sebetulnya kantor utama PSSI ada di GBK, tapi beruhubung GBK lagi di rehab, PSSI sementara pindah ke perkantoran di bilangan Kuningan. Nah sampai di kantor bikin saya cukup degdegan. Bukan, bukan karena sainganya yang banyak. Tapi ini gedung bagus banget, buat ukuran orang desa kaya saya, ini gedung bener-bener bikin gugup. Pintunya aja canggih, dibuka harus pake gesekan kartu. Buat orang katro kaya saya, ini lebih susah dari pada gocek Bambang Pamungkas. Al hasil saya tiba di sana. Kantor PSSI sendiri ada di lantai 17. Saya didudukan bersama delapan orang lain disebuah ruang rapat. Karena saya datang paling buncit (dan memang perut saya buncit) saya dapat urutan terakhir.

Tiba waktunya saya untuk di interview, saya mesti ke ruangan user buat diwawancara. Untuk ke ruang user, saya mesti buka pintu yang lagi-lagi bikin saya degdegan, dibukanya pake pencetan. mana saya ngerti. Nah, dibalik pintu itulah saya lihat ada puluhan orang kerja. Sibuk sama komputernya masing-masing, Sedangkan didepan, tepat dimana saya melintas, ada sebuah trofi yang dipajang diatas meja. Kalau tidak salah ada dua trofi disana. Tapi, fokus saya cuma sama trofi Piala AFF U19. Itu loh piala yang digondol sama evan dimas pas lagi tenar-tenarnya. Trofi itu benar-benar dekat sama saya. pengen rasanya dipegang, tapi pasti ditegur. Pengen foto tapi ada puluhan orang yang pasti siap pasang muka nyinyir. Nah, trofi yang satunya lagi kalau tidak salah trofi liga indonesia.

Oke, singkat cerita saya masuk ruangan user, lalu keluar lagi dengan hati tak terlalu puas. Sebab, posisi yang dibutuhkan PSSI adalah posisi yang bukan saya banget, otomatis jawaban-jawaban saya kualahan. Udah kaya kiper timnas pas lawan vietnam di Sea games kemarin. Tapi, pas lewat trofi itu, hati saya jadi ga terlalu sesek lagi. Cuma bisa senyum, ga tau kapan bisa liat tropi-tropi timnas lagi
Bayangan itu terus kebawa sampai saya duduk dikereta pulang. Saya mulai cari tahu, tropi-tropi apa saja yang pernah timnas Indonesia dapat. Dan hasilnya tidak terlalalu mengembirakan. Dari pertama kali PSSI berdiri, belum banyak trofi yang didapat tim garuda. Jangankan level dunia atau Asia, se tingkat Asia Tenggara aja belum pernah sekalipun. Lima kali masuk final AFF, lima kali juga jadi Runner Up. Emangnya siapa yang mau inget sama runner up? Indonesia emang pernah juara seagames. Tapi, seagames kan ga dapet trofi, Cuma dapet medali. Medali buat pemain, PSSI dapat apa?

Hal itu lah yang buat saya mikir, apa karena ga banyak prestasi timnas, PSSI jadi cuma pajang trofi AFF U19 di atas meja. Bukan lemari. Kemana Lemari Trofi PSSI? Saya jadi menduga kalau PSSI ini belum punya lemari trofi, lah wong juara aja jarang. Kalaupun juara eventnya adalah event yang dibuat sama salah satu negara. Kaya macem Piala Merdeka yang terakhir diadain ndi GBK tahun 2008. Indonesia juara, gara-gara lawanya WO.

Lemari Trofi sendiri biasanya jadi tempat sebuah tim taruh piala-piala kebanggan. Tempatnya bisa jadi di ruang utama ketua, atau sengaja di taruh di tempat yang mudah dilihat orang saat berkunjung ke kantor. Tujuanya? ya udah pasti buat pamer. Kata-kata lemari trofi juga sering jadi diksi para wartawan Indonesia untuk menulis sebuah diksi ketika sebuah tim berhasil dapet gelar juara. 

Kalimatnya biasanya begini “Madrid sukses menambah piala untuk dipajang dilemari trofi mereka”
Saya pikir lemari trofi ini perlu dipertimbangkan oleh PSSI. Sudah saatnya kita punya lemari trofi, masa trofi AFF U19 Cuma dipasang dimeja. Barangkali PSSI harus denger ceramah-ceramahnya Ustad Yusuf Mansyur. Yusuf Mansyur sendiri kalau ceramah suka bikin yang denger termotivasi buat dapet rejeki. Maklum, pak ustad yang satu ini emang terkenal sebagai ustad sedekah,  ustad yang materinya kebanyakan soal rejeki.

Biasanya Yusuf Mansyur suka nyaranin orang-orang yang  denger ceramahnya buat mikir positif 

“Pak, kalau mau punya mobil, bikin aja dulu garasinya” “Bu, kalau mau punya rumah, bilang sama tetangga kontrakan ibu, tahun depan insya allah saya mau beli semua kontrakan disini” Nah, kalau Yusuf mansyur diundang untuk ceramah di PSSI, yakin saya mah orang-orang PSSI suruh beli lemari trofi. “Pak Ketum, kalau mau timnas juara. Ngangkat piala. Punya dulu dong lemari trofinya. Nah, kalau udah punya lemarinya, ente do’a deh. Ya Allah, nih ane udah beli lemari trofinya. Kasih trofi buat timnas ya Allah” Kira-kira itu yang bakal dibilang Yusuf Mansyur kalau emang bener PSSI mau undang Pak Ustad diacara Tasyakuran medali perunggu Seagames 2017. Medali perunggu juga mesti disyukuri bos.


Tahun depan piala AFF datang lagi, Asian Games juga bakal digelar. Kalau sampe tahun depan PSSI belum beli lemari trofi, ya mungkin rejeki juara masih seret. Saran saya, ada baiknya di tv kantor PSSI sering-sering nyetel ceramah Yusuf Mansyur. Dan pada akhirnya, sampai saat ini PSSI belum panggil saya lagi buat seleksi pegawai selanjutnya.  

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kala Pianis Asal Garut Harumkan Nama Indonesia di Kompetisi Dunia

Ada sekitar 2000 lampu bergelantung yang mengilat asal Austria, marmer-marmer kokoh pemberian Italia, cermin jumbo kualitas terbaik dari Belgia, pohon dedalu yang rimbun hibahan Kerajaan Britania Raya dan tentunya bangunan megah khas negeri adidaya. Disebuah bangunan kesenian bersejarah paling prestisius di Amerika Serikat itu, seorang pria kelahiran Garut melangkah, dengan setelan jas rapih dan rambut klimis, dia berhasil masuk dengan tepuk tangan yang riuh dan keluar dengan membuat seisi bangunan terpukau. Siapa dia sebenarnya? Barangkali bagi mereka yang menggemari dunia kesenian, akan sangat memimpikan tampil di John F Kennedy Center. Sebuah simbol kesenian masyarakat Amerika yang dibangun tepat di jantung negara, Washington DC. Setiap hari, kegiatan berkesian digaungkan disana. Ada banyak musisi yang tampil dan ada lebih banyak penonton yang melihat. Dari banyak musisi yang berhasil tampil disana. Barangkali Kasyfi Kalyasyena adalah musisi pertama asal Indonesia yang...

Review Film Parasite : Komedi Satir yang Terasa Begitu Getir

Sam Mendes, Quentin Tarantino dan Todd Philips memasang wajah tegang. Semua terdiam menanti aktris kawakan, Jane Fonda mengumumkan film terbaik di tahun 2020. Sedetik kemudian Jane berucap “ and oscar goes to Parasite ” Semua orang terhenyak kemudian bertepuk tangan atas kemenangan Film Asia pertama dalam sejarah Academy Award. Malam itu bukan Sam Mendes bukan Quentin Tarantino apalagi Todd Philips yang berdiri diatas podium dan menggenggam piala emas bernama Oscar. Tapi, seorang pria dengan rambut kribo yang terbang selama 11 jam dari Korea Selatan menuju Amerika. Dia adalah Bong Joon-Ho. Manusia paling mengejutkan dalam dunia perfilman tahun 2020 Bong Joon-Ho berdiri. Tertawa lepas, ia tak bisa menyembunyikan kebahagiaanya. Malam itu, Asia merajai Amerika. Merajai dunia. Dan sejarah itu tertulis atas nama film Parasite. Terlepas dari mengejutkannya film Parasite menjuarai Academy Award untuk kategori film terbaik. Banyak orang sebetulnya sudah memprediksinya. Tapi, siapa yang san...

Mari Buat Simpul dan Buat Stunting Jadi Tumpul

14 Oktober 2016 pagi. Lia saya sudah masuk ruang operasi. Sejak semalam sebelumnya dirinya tak bisa tidur, kandungan yang ada dalam rahimnya sudah tak betah. Ia ingin segera melihat dunia. Dan pagi itu adalah harinya. Setelah kesulitan melahirkan dengan normal. Lia memutuskan untuk ambil tindakan operasi caesar. Operasi berjalan lancar. Bayi lucu itupun lahir kedunia. Kelak, dia dinamai Ghayda Shanum Athaya Ghayda yang kini sudah nyaris berusia dua tahun tumbuh dengan begitu mengaggumkan. Maksdunya, diusia yang belum genap 24 bulan, Ghayda sudah bisa melakukan banyak hal. Dari mulai berhitung, menyebut dan membedakan warna, hingga daya ingatnya yang benar-benar membuat orang sedikit banyak terkagum. Lia sang ibu memang ibu masa kini, dia melakukan banyak hal agar kandungan yang dia miliki tetap sehat. Bahkan ketika Ghayda telah lahir, asupan gizi yang dia beri bisa dibilang teramat cukup dengan kualitas yang teramat baik. Lia bahkan bisa tegas untuk menolak susu formula...