Langsung ke konten utama

Asian Games 2018, Ini Indonesia Bung!





Dan gelaran Asian games yang penuh gempita itu akhirnya rampung digelar. Ajang empat tahunan ini diluar dugaan sukses diselenggarakan. Puluhan negara, ribuan atlet, belasan ribu penonton benar-benar menikmati dua minggu yang semarak. Bahkan ketika Asian Games telah berakhir, semaraknya masih menempel. Aroma semangat bertanding untuk mengharumkan nama bangsa masih begitu terasa.

Sebetulnya kalau kita mau inget-inget, sebelum asian games dimulai banyak orang yang memicingkan mata. Sekedar tidak percaya jika Asian Games akan mulus diselenggarakan. Dan tak percaya kalau kontingen kita bisa merebut medali sebanyak itu. Bayangkan 31 medali emas digondol. Total 98 medali direbut oleh atlet kita. Merah putih berkibar di venue-venue yang berada  di Jakarta, Sumatera Selatan dan Jawa Barat. Lagu Indonesia raya berkumandang teramat sering. Bahkan sampai-sampai atlet Bola Tangan Iraq sedikit hafal dengan lagu kebangsaan kita. Sesuatu yang seharusnya membuat kita begitu tersentuh

Dunia memuji. Media-media luar negeri dengan heboh menuliskan judul dengan tulisan tebal dan besar kalau Indonesia telah sukses menggelar Asian Games dengan baik. Bahkan, banyak yang menilai jika Asian Games 2022 nanti standarnya naik. Yap, negara kita ini yang membuat ajang Asian Games jadi punya standar baru.



Dan kita juga masih ingat dengan berbagai macam selentingan yang ditujukan pada semua elemen. Mulai dari pemerintah pusat. Yap, Jokowi dan kawan-kawan dinilai tak akan sanggup mengejar proyek infrasturktur untuk gelaran Asian Games. Apalagi kalau kita ingat, sebetulnya yang apat jatah untuk menyelenggarakan Asian Games adalah Vietnam, namun akhirnya mereka mundur dan Indonesia dengan penuh resiko mengambilnya. Hanya empat tahun waktu yang dimiliki, sebuah perjudian memang. Namun nyatanya kita memenangkan perjudian

Memang kita harus akui jika proyek infrastuktur pada akhirnya tak 100 persen terkejar. Masih ada yang mangkrak, belum rampung dan belum bisa digunakan dengan baik. Tapi, siapa peduli? Nyatan kita seakan dibuat lupa ketika Asian Games dimulai dan segala peerjaan yang mangkrak itu seperti hilang tertiup angin, berganti riuh rendah penonton yang gila akan pertandingan.
Kalau anda belum lupa ingatan, sebelum Asian Games berlangsung banyak yang berkelakar jika Indonesia tak mungkin mencapai target medali. Dan bertengger di 10 besar. Nyatanya, diakhir Asian Games, kita jauh melampaui target. Ini membuktikan jika kita memang bisa menjadi sebuah bangsa yang diperhitungkan dalam bidang olahraga.

Betul, diluar sana masih teramat banyak yang bilang kalau prestasi itu biasa saja. Toh kita ini tuan rumah, sudah pasti ada keistimewaan sendiri dalam berlaga. Eits nanti dulu, ini Asian Games, bukan tarkam. Semuanya disiapkan oleh Dewan Olimpiade Asia. Dari wasit sampe pengawas pertandingan semua tanggung jawab mereka bukan kita sebagai tuan rumah. Tugas kita hanya menyediakan sarana dan prasarana dan melayani mereka dengan baik.



Betul juga, diluar sana banyak sekali yang billang, “ah mayoritas emas kan didapat dari olahraga pilihan Indonesia” Betul! Jadi gini, setiap tuan rumah boleh menentukan olahraga apa saja yang ingin dimasukan untuk dipertandingkan. Kita punya hak untuk memilih cabang olahraga yang memang kita unggul. Ada batasannya. Dan di Asian Games sekarang Indonesia memasukan cbang olahraga semacam Pencak Silat, Paralayang, Jet Ski sampai Panjat Dinding. Dan berhasil! semuanya menyumbang emas untuk Indonesia. Terutama pencak silat, disapu bersih semua emas oleh kontingen kita

Ya tidak ada salahnya Indonesia memasukan beberapa cababg olahraga unggulan. Toh memang itu keistimewaan tuan rumah, siapapaun tuan rumahnya pasti melakukan itu. boleh memilih cabor favorit untuk mendulang emas sebanyak-banyaknya. Yang salah adalah ketika sudah memasukan cabor favorit dan minim prestasi. Ini yang harusnya diolok-olok. Jadi kenapa misuh-misuh untuk hal yang lumrah?

Kita sejatinya lupa kalau sebelum Asian Games dimulai, banyak persoalan menyeruak. Salah satu yang paling santer terdengar adalah kelayakan Wisma Atlet, banyak yang sebelumnya mengira kalau proyek kampung atlet tak akan layak dipakai oleh atlet-atlet se-Asia. Nyatanya, mereka justru sangat kerasan dan menganggap jika Indonesia telah membuat terobosan yang luar biasa dengan mendirikan kampung atlet sendiri.

Masih ingat dengan kali item? atau jangan-jangan sudah lupa? Yap Gubernur Anies Baswedan sempet memberi kejutan dengan menutupi kali item, supaya baunya tidak menyengat dan mengganggu atlet. Cibiran hadir dimana-mana. Tapi ketika Asian Games berlangsung, mana beritanya? menguap, hilang begitu saja. Kita memang terkadang mesti melupakan hal-hal sepele yang dibesar-besarkan.  Habis energi kita untuk membahas hal-hal yang kemudian tak hangat lagi untuk dibahas.

Pun dengan ganjil genap, entahlah penulis bukan orang jakarta. Tak begitu mengerti berpayah-payahnya aturan itu diterapkan dan menggangu mereka pengguna jalan untuk dapat lancar diperjalanan. Nyatanya kita bisa melewati aturan ganjil genap dengan baik. Tak ada protes berarti dan membuat gelaran Asian Games 2018 jadi jauh lebih lancar



Juga tentang pembukaan dan penutupan asian games yang teramat memukau. Jutaan orang mungkin tak bisa menutup mulut melihat kerennya penampilan anak bangsa dimata dunia. Eksotisme kebudayaan berpadu manis dengan sentuhan kekinian. Itulah Indonesia dalam pembukaan dan penutupan asian games. Salut.

Sadar tidak sadar, kesuksesan ini didapat atas kerjasama yang baik antara koalisi pemerintah pusat dan koalisi pemerintah daerah yang notabenenya tak sejalur. Mereka sering terlihat gotot-gototan. Tapi nyatanya kalau mau meredam satu sama lain. Bisa juga kita bersinar. Penulis harus bilang kalau Asian Games ini adalah kemenangan dan kebahagiaan kita semua. Mari rayakan dengan penuh khidmat.

Asian Games 2018 memang nihil celah untuk dikritisi dan teramat melimpah akan prestasi, Selamat. Dan kini ayo songsong olimpiade Tokyo 2020 rebut medali sebanyak-banyaknya.  Juga busungkan dada untuk bersiap dan besolek kembali supaya 2032 nanti ajang olahraga tertinggi didunia itu benar-benar hadir di Indonesia.  Dan pada waktunya nanti kita akan sama-sama bilang. Ini Indonesia Bung!

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kala Pianis Asal Garut Harumkan Nama Indonesia di Kompetisi Dunia

Ada sekitar 2000 lampu bergelantung yang mengilat asal Austria, marmer-marmer kokoh pemberian Italia, cermin jumbo kualitas terbaik dari Belgia, pohon dedalu yang rimbun hibahan Kerajaan Britania Raya dan tentunya bangunan megah khas negeri adidaya. Disebuah bangunan kesenian bersejarah paling prestisius di Amerika Serikat itu, seorang pria kelahiran Garut melangkah, dengan setelan jas rapih dan rambut klimis, dia berhasil masuk dengan tepuk tangan yang riuh dan keluar dengan membuat seisi bangunan terpukau. Siapa dia sebenarnya? Barangkali bagi mereka yang menggemari dunia kesenian, akan sangat memimpikan tampil di John F Kennedy Center. Sebuah simbol kesenian masyarakat Amerika yang dibangun tepat di jantung negara, Washington DC. Setiap hari, kegiatan berkesian digaungkan disana. Ada banyak musisi yang tampil dan ada lebih banyak penonton yang melihat. Dari banyak musisi yang berhasil tampil disana. Barangkali Kasyfi Kalyasyena adalah musisi pertama asal Indonesia yang...

Review Film Parasite : Komedi Satir yang Terasa Begitu Getir

Sam Mendes, Quentin Tarantino dan Todd Philips memasang wajah tegang. Semua terdiam menanti aktris kawakan, Jane Fonda mengumumkan film terbaik di tahun 2020. Sedetik kemudian Jane berucap “ and oscar goes to Parasite ” Semua orang terhenyak kemudian bertepuk tangan atas kemenangan Film Asia pertama dalam sejarah Academy Award. Malam itu bukan Sam Mendes bukan Quentin Tarantino apalagi Todd Philips yang berdiri diatas podium dan menggenggam piala emas bernama Oscar. Tapi, seorang pria dengan rambut kribo yang terbang selama 11 jam dari Korea Selatan menuju Amerika. Dia adalah Bong Joon-Ho. Manusia paling mengejutkan dalam dunia perfilman tahun 2020 Bong Joon-Ho berdiri. Tertawa lepas, ia tak bisa menyembunyikan kebahagiaanya. Malam itu, Asia merajai Amerika. Merajai dunia. Dan sejarah itu tertulis atas nama film Parasite. Terlepas dari mengejutkannya film Parasite menjuarai Academy Award untuk kategori film terbaik. Banyak orang sebetulnya sudah memprediksinya. Tapi, siapa yang san...

Mari Buat Simpul dan Buat Stunting Jadi Tumpul

14 Oktober 2016 pagi. Lia saya sudah masuk ruang operasi. Sejak semalam sebelumnya dirinya tak bisa tidur, kandungan yang ada dalam rahimnya sudah tak betah. Ia ingin segera melihat dunia. Dan pagi itu adalah harinya. Setelah kesulitan melahirkan dengan normal. Lia memutuskan untuk ambil tindakan operasi caesar. Operasi berjalan lancar. Bayi lucu itupun lahir kedunia. Kelak, dia dinamai Ghayda Shanum Athaya Ghayda yang kini sudah nyaris berusia dua tahun tumbuh dengan begitu mengaggumkan. Maksdunya, diusia yang belum genap 24 bulan, Ghayda sudah bisa melakukan banyak hal. Dari mulai berhitung, menyebut dan membedakan warna, hingga daya ingatnya yang benar-benar membuat orang sedikit banyak terkagum. Lia sang ibu memang ibu masa kini, dia melakukan banyak hal agar kandungan yang dia miliki tetap sehat. Bahkan ketika Ghayda telah lahir, asupan gizi yang dia beri bisa dibilang teramat cukup dengan kualitas yang teramat baik. Lia bahkan bisa tegas untuk menolak susu formula...